Halaman

Senin, 01 September 2014

Aku temanmu dan Haruskah Itu


Tak pernah kah kau berfikir
aku sedih, kecewa dan merasa bersalah
saat kamu melakukan yang tak benar
aku temanmu
kewajibanku untuk mengingatkanku
aku temanmu 
kewajibanku untuk meluruskanmu
aku temanmu 
kewajibanku untuk melindungimu dari hal yang tidak baik
aku temanmu 
jika aku membiarkanmu dalam kesalahan akupun akan ikut salah
aku temanmu 
"bukankah ketika seseorang berteman dengan tukang minyak wangi maka akan ikut wangi dan jika berteman dengan pandai besi akau ikut bau besi"
haruskah aku menjauhimu hanya karena aku takut terkena “bau besi”
haruskah aku membiarkanmu dalam kegelapan
haruskah aku memaksamu kembali
haruskah itu
haruskah itu

Hanya Untuk


ketika memutuskan untuk melanggar aturan Allah
maka bersiaplah untuk menanggung resikonya
hanya karena kata untuk Move On “pelarian”
kamu rela melanggar aturan Penciptamu
aneh sungguh aneh
hanya untuk kenikmatan sesaat kamu rela
untuk melanggar aturan Penciptamu
hanya untuk hal yang tak bermanfaat kamu rela melakukan itu
hanya untuk perhatian manusia kamu rela
hanya karena kasihan kamu rela 
kamu rela hanya karena Manusia kamu melanggar aturan sang Pencipta 

Tanpa Kamu Bicara


tanpa kamu bicara
orang tak tau apa yang kamu rasakan dan yang ingin kamu lakukan 
tanpa kamu bicara
orang tak akan pernah mengerti tentangmu
tanpa kamu bicara 
tak akan ada teman yang mengerti masalahmu
tanpa kamu bicara 
orang tak akan tau siapa yang bersalah dan disalahkan
tanpa kamu bicara
orang tak akan pernah tau apa yang terjadi didalam dirimu
tannpa kamu bicara 
orang tak akan memaafkanmu karena tak pernah meminta maaf
tanpa kamu bicara
semua akan salah faham
diam itu lebih baik jika berbicara yang tak bermakna
tapi berbicara pun bisa lebih baik jika kata itu menyelesaikan masalah 

Mencintai Cinta Sahabatku


aku hanya bisa melihatmu tanpa bisa mengucapkan apa yang aku rasa
aku mencintaimu dan kamu mencintaiku
tapi … .
kamu malah bersamanya tanpa bertanya 
cintakah aku padamu
dan sekarang … .
kamu tau perasaanku seperti apa terhadapmu
dan akupun tau perasaan terhadapku dan terhadapnya
walaupun kita saling mencintai tapi kita tak bisa bersama 
karena dia yang bersamamu adalah sahabatku
ya sahabatku sendiri
aku tak bisa menyakitinya hanya karena egoku 
ingin bersamamu
biarkanlah rasa cintaku diam hanya di dalam hatiku
Disetiap malamku aku berdoa “Ya Allah jika memang dia jodohku jangan sampai kami menyakiti siapapun, dan jika dia bukan jodohku maka berilah aku jodoh yang lebih baik” 

SENDIRI

kesendirian merupakan ketakutan tersendiri bagi manusaia apalagi bagi perempuan , sendiri itu hal yang menakutkan 
tak ada tempat untuk bermanja manja
tak ada tempat untuk berbagi 
tapi kadang kala kita membutuhkan waktu sendiri
untuk merenungkan apa yang terjadi dan apa yang dilakukan selanjutnya
atau memuhasabah diri

Minggu, 22 Juni 2014

Budaya Pacaran dikalangan Mahawiswa dan pandangan Islam terhadap pacaran

Budaya Pacaran dikalangan Mahawiswa dan pandangan Islam terhadap pacaran
Dianjukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia yang dibimbing
oleh Cecep Nuryadin, Mpd




Oleh :
Fatimah Nisa Al-munawaroh Ahmad
Npm : 1030010213025




Program Study Ekonomi Syari’ah
Fakultas Agama Islam
Universitas Suryakancana (UNSUR)
Cianjur 2014     






KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT karena berkat hidayah dan taufiqnya saya mampu menyelesaikan penyusunan Karya Tulis Ilmiah yang berjudul “BUDAYA PACARAN DIKALANGAN MAHAWISWA DAN PANDANGAN ISLAM TERHADAP PACARAN”. Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah “Bahasa Indonesia”, makalah ini yang diharapakan bisa menambah wawasan dan dapat bermanfaat dalam dunia pendidikan.
Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan Karya Tulis ini.
Saya menyadari bahwa Karya Tulis ini jauh dari kata sempurna, serta masih banyak kekurangan dan kesalahannya. oleh karena itu kritik dan saran dari semua yang bersifat membangun selalu kamiharapkan demikesempurnaan makalah ini. Dan mudah-mudahan makalah ini dapat mendorong kita untuk lebih giat dalam proses menimba ilmu dengan sebaik-baiknya. Amin yarobbal’alamin.

Cianjur,    Juni  2014


Penyusun


                         






DAFTAR ISI
Kata Pengantar .............................................................................................. i
Daftar Isi......................................................................................................... ii
BAB I. PENDAHULUAN............................................................................. 1
1.1     Latar Belakang.............................................................................. 1
1.2     Batasan Masalah ........................................................................... 2
1.3     Rumusan Masalah.......................................................................... 2
1.4     Metode Penelitian ......................................................................... 2
1.5     Tujuan Penelitian .......................................................................... 2
1.6     Manfaat Penelitian......................................................................... 3
1.7     Sistematika Makalah...................................................................... 3
BAB II. LANDASAN TEORI ..................................................................... 4
2.1  Pengertian Pacaran ......................................................................... 4
2.2  Pengertian Islam ............................................................................ 5
2.3  Pengertian Mahasiswa ................................................................... 8

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN dan BATASAN MASALAH. 9

BAB IV. PERBANDINGAN TEORI dan KEADAAN DILAPANGAN 10
4.2  Budaya Pacaran di Kalangan Mahasiswa....................................... 10
4.3  Kajian Teoritis................................................................................. 10

BAB V. SIMPULAN dan SARAN .............................................................. 12
5.1  Simpulan......................................................................................... 12
5.2  Saran............................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA






BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang Masalah
Istilah pacaran memang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Sudah banyak orang yang mengangkat topik ini untuk dikaji, dibahas, dan diteliti. Namun topik ini selalu menarik untuk diangkat karena melekat dalam kehidupan kita sehari-hari terutama bagi remaja.
Makalah ini disusun atas dasar kondisi psikis penulis sendiri yang sedang mengalami kebimbangan dalam mengambil sebuah keputusan yang nantinya akan menjadi prinsip dan pedoman hidup. Penulis sedang mengalami sebuah masa dimana seseorang itu mencari tahu siapa dirinya dan apa yang semestinya dilakukan dan tidak dilakukan dengan kata lain penulis sedang mencari jati diri. Masalah pacaran merupakan masalah yang kontemporer dikalangan pemuda saat ini. Sebuah tindakan yang wajar sebagai wujud dari perasaan suka kepada lawan jenis namun kebanyakan menjadi ajang pelampiasan nafsu yang berakibat buruk bagi para pelakunya. Sebagai seorang remaja yang sebentar lagi menginjak usia dewasa tentu sudah pernah merasakan getaran-getaran cinta. Seuatu perasaan suka kepada lawan jenis yang diekspresikan melalui berbagai macam cara. Suatu perasaaan yang bergejolak di dalam hati terhadap seseorang yang menimbulkan rasa ingin memperhatikan dan diperhatikan, rasa ingin tahu lebih, rasa malu, rasa cemburu, rasa curiga dsb semua rasa bercampur menjadi satu kadang suka, kadang sedih, kadang berani, kadang takut untuk melakukan sesuatu hal yang berhubungan denganya. Rasa ini yang bisa mengubah seseorang baik dari segi perspektif, tingkah laku, tutur kata, gaya berbusana dll bergantung pada dengan siapa dan bagaimana orang disekitarnya mempengaruhi untuk berlaku apa yang semestinya dia lakukan menurut pandangan mereka. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (edisi ketiga.2002:807) Pacar adalah kekasih atau teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih. Pacar diartikan sebagai orang yang spesial dalam hati selain orangtua, keluarga dan sahabat kita. Melihat fenomena yang terjadi saat ini, seringkali makna pacaran disalahgunakan sebagai ajang pelampiasan nafsu, ajang pertunjukan rasa gengsi, ajang popularitas, ajang meraup keuntungan pribadi dll. Sedangkan esensial dari pacaran tersebut memudar. Dimana kita saling mengenal satu sama lain, saling mengerti dan dimengerti, saling cinta dan saling setia. Penulis hanya meneliti Mahasiswa Islam Sosiologi karena peneliti sendiri seorang muslim. Dalam Islam sudah diatur bagaimana cara bergaul dan berhubungan dengan lawan jenis. Islam memandang pacaran adalah tidak boleh (haram) . Maka dari itu penulis ingin mengetahui apakah Mahasiswa FAI Ekonomi Syariah menggunakan aturan tersebut ataupun tidak. Dengan demikian penulis perlu mengambil tema pacaran untuk mengetahui sejauh mana Mahasiswa UNSUR Fakultas Agama Islma Ekonomi Syariah A Semester 2 (dua) memaknai istilah pacaran. Apakah mereka setuju dengan pacaran ataupun tidak dengan alasan masing-masing yang melatarbelakanginya.
1.2  Batasan Masalah
Dalam penelitian ini permasalahan penulis batasi yakni Mahasiswa UNSUR Fakultas Agama Islma Ekonomi Syariah A Semester 2 (dua) angkatan 2013/2014 dengan mengambil sampel 11 orang (masing-masing 2 orang laki-laki dan 9 orang perempuan).

1.3  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka dapat dikembangkan permasalahan pokok yang diteliti dalam makalah ini yaitu:
1.      Sejak kapan dan dari mana Mahasiswa UNSUR Fakultas Agama Islma Ekonomi Syariah A Semester 2 (dua) mengenal istilah pacaran?
2.      Apa definisi pacaran menurut mereka?
3.      Apa latar belakang mereka berpacaran?
4.      Bagaimana Islam Memandang Pacaran?

1.4  Metode Penelitian
Penulis menggunakan metode  dengan mewawancarai Aktivis Pacaran.

1.5  Tujuan Penelitian
A.    Tujuan Umum
1.      Mengetahui kapan dan dari mana Mahasiswa UNSUR Fakultas Agama Islma Ekonomi Syariah A Semester 2 (dua)
2.      Mengetahui definisi pacaran menurut mereka.
3.      Mengetahui Alasan mereka berpacaran.
4.      Mengetahui Bagaimana Islam Memandang Pacaran



B.     Tujuan bagi penulis
1.      Untuk mengetahui sejauh mana pemahaman penulis tentang penelitian.
2.      Makalah ini dijadikan tolak ukur kemampuan penulis dalam menyusun makalah selanjutnya yang memerlukan perbaikan di semua unsur-unsurnya.
C.    Tujuan bagi pembaca
1.      Semoga dengan disusunya makalah ini dapat menambah pengetahuan pembaca tentang pacaran dalam Islam di kalangan mahasiswa khususnya Mahasiswa UNSUR Fakultas Agama Islma Ekonomi Syariah A Semester 2 (dua)
2.      Semoga makalah ini dapat dijadikan tolak ukur perilaku mahasiswa dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis.
1.6  Manfaat Penelitian
Dari penelitian ini manfaat yang penulis peroleh diantaranya :
  1. Media pembelajaran dalam Metodologi Penelitian.
  2. Melatih berkomunikasi dan bersosialisasi lewat media wawancara.
  3. Memperluas pengetahuan penulis tentang berbagai hal mengenai hukum pacaran dalam agama.
1.7  Sistematika penulisan
 BAB I Pendahuluan                    : Bab I ini  terdiri dari Latar Belakang Masalah yang mengungkapkan alasan penulis dalam pemilihan judul. Lalu terdiri dari identifikasi masalah serta tujuan penulisan..
BAB II Kajian Teori                     :  BAB II merupakan bagian yang mengkaji teori-teori yang berkaitan dengan judul karya tulis ilmiah. 
BAB III Metodologi Penelitian    : Di BAB III ini penulis menguraikan semua masalah yang ada dengan menggunakan data hasil.
BAB IV Pemerian Masalah          : Di BAB IV ini penulis membahas Budaya Pacaran dikalangan Mahasiswa kajian Teoritis dikaitkan dengan keadaan di lapangan.
BAB IV PENUTUP                     : Berisi kesimpulan dari hasil penelitian penulis dan
  saran penulis bagi pembaca.





BAB II
LANDASASAN TEORI

2.1  Definisi Pacaran
Definisi yang dibakukan di buku KBBI, kamus resmi bahasa. Buku PIA mengungkap: “Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga, 2002: 807), pacar adalah kekasih atau teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta-kasih. Berpacaran adalah bercintaan; [atau] berkasih-kasihan [dengan sang pacar]. Memacariadalah mengencani; [atau] menjadikan dia sebagai pacar.” (PIA: 19) “Sementara kencan sendiri menurut kamus tersebut (lihat halaman 542) adalah berjanji untuk saling bertemu di suatu tempat dengan waktu yang telah ditetapkan bersama.” (PIA: 20). Jika definisi-definisi baku tersebut kita satukan, maka rumusannya bisa terbaca dengan sangat jelas sebagai berikut: Pacaran adalah bercintaan atau berkasih-kasihan (antara lain dengan saling bertemu di suatu tempat pada waktu yang telah ditetapkan bersama) dengan kekasih atau teman lain-jenis yang tetap (yang hubungannya berdasarkan cinta-kasih). Singkatnya, pacaran adalah bercintaan dengan kekasih-tetap.
Pacaran merupakan proses perkenalan antara dua insan manusia yang biasanya berada dalam rangkaian tahap pencarian kecocokan menuju kehidupan berkeluarga yang dikenal dengan pernikahan. Mengungkapa : “Menurut Wikipedia bahasa Indonesia” Pada kenyataannya, penerapan proses tersebut masih sangat jauh dari tujuan yang sebenarnya. Manusia yang belum cukup umur dan masih jauh dari kesiapan memenuhi persyaratan menuju pernikahan telah dengan nyata membiasakan tradisi yang semestinya tidak mereka lakukan. Tradisi pacaran memiliki variasi dalam pelaksanaannya dan sangat dipengaruhi oleh tradisi individu-individu dalam masyarakat yang terlibat. Dimulai dari proses pendekatan, pengenalan pribadi, hingga akhirnya menjalani hubungan afeksi yang ekslusif. Perbedaan tradisi dalam pacaran, sangat dipengaruhi oleh agama dan kebudayaan yang dianut oleh seseorang. Menurut persepsi yang salah, sebuah hubungan dikatakan pacaran jika telah menjalin hubungan cinta-kasih yang ditandai dengan adanya aktivitas-aktivitas seksual atau percumbuan. tradisi berpacaran yang telah nyata melanggar norma hukum, norma agama, maupun norma sosial di Indonesia masih terjadi dan dilakukan secara turun-temurun dari generasi ke generasi yang tidak mememiliki pengetahuan menjaga kehormatan dan harga diri yang semestinya mereka jaga dan pelihara. Mengungkap :  “Menurut Wikipedia bahasa Indonesia”
Dengan demikian, pacaran yang aktivitasnya “lebih dari” bercintaan, misalnya ditambahi aktivitas baku-syahwat, itu pun masih dapat disebut ‘pacaran’ Sedangkan, pada dua orang yang baru saling mengungkapkan cinta telah ada aktivitas bercintaan, tetapi belum ada hubungan yang ‘tetap’, sehingga belum tergolong pacaran.
Hubungan yang ‘tetap’ itu dapat tercipta dengan ikatan janji atau komitmen untuk menjalin kebersamaan berdasarkan cinta-kasih. Kebersamaan yang disepakati itu bisa berujud apa saja. Dengan demikian, yang tidak diniatkan untuk nikah masih bisa dinyatakan pacaran. Bahkan, ‘hidup bersama tanpa nikah’ pun bisa disebut ‘pacaran’. Istilah “pacaran” itu sendiri menurut para ahli mungkin dalam pembahasaannya ada sedikit perbedaan. Tetapi tidak dalam konteks dan realita. Karena setidaknya ada tiga hal yang pasti, bahwa pacaran itu ‘mensyaratkan’ adanya “cinta”, “keintiman” dan “pengakuan masing-masing lawan jenis itu sebagai pacar”. Mungkin pada “kadar” cinta dan keintiman, masing2 orang boleh jadi berbeda,tetapi masalah “pengakuan masing-masing lawan jenis itu sebagai pacar” adalah perkara mutlak yang tidak terbantahkan lagi sebagai prasyarat suatu hubungan disebut “pacaran”. Hal ini sesungguhnya tidak terlalu sulit untuk dipahami. Bahkan jika kita mau jujur, bertanya kepada mereka yang “aktivis” pacaran, sebelum ada kejelasan “status sebagai pacar” maka hubungan yang terjalin antara 2 insan lain jenis itu belum diakui sebagai “Pacaran”. Mungkin ada yang menyebutnyaTTM” atau “HTS” atau “SAHABATAN”, tetapi tidak “berpacaran”.
2.2  Pengertian Islam
Islam berasal dari kata Arab Aslama-Yuslimu-Islaman yang secara kebahasaan berarti 'Menyelamatkan' misal teks 'Assalamu Alaikum' yang berarti Semoga Keselamatan menyertai kalian semuanya. Islam/Islaman adalah Masdar/Kata benda sebagai bahasa penunjuk dari Fi'il/Kata kerja yaitu 'Aslama' =Telah Selamat (Past Tense) dan 'Yuslimu' =Menyelamatkan (Past Continous Tense). Kata Islam lebih spesifik lagi didapat dari bahasa Arab Aslama, yang bermakna "untuk menerima, menyerah atau tunduk" dan dalam pengertian yang lebih jauh kepada Tuhan.
Islam berarti penerimaan dari dan penyerahan diri kepada Tuhan, dan penganutnya harus menunjukkan ini dengan menyembah-Nya, menuruti perintah-Nya, dan menghindari politheisme. Perkataan ini memberikan beberapa maksud dari al-Qur’an. Dalam beberapa ayat, kualitas Islam sebagai kepercayaan ditegaskan: "Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam..."Ayat lain menghubungkan Islām dan dīn (lazimnya diterjemahkan sebagai "agama"): "...Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu." Namun masih ada yang lain yang menggambarkan Islam itu sebagai perbuatan kembali kepada Tuhan-lebih dari hanya penyataan pengesahan keimanan.
2.2.1        Istilah Pacaran dalam Islam
Istilah pacaran sebenarnya tidak dikenal dalam Islam. Untuk istilah hubungan percintaan antara laki-laki dan perempuan pranikah, Taaruf adalah kegiatan bersilaturahmi, kalau pada masa ini kita bilang berkenalan bertatap muka, atau main/bertamu ke rumah seseorang dengan tujuan berkenalan dengan penghuninya. Bisa juga dikatakan bahwa tujuan dari berkenalan tersebut adalah untuk mencari jodoh. Taaruf bisa juga dilakukan jika kedua belah pihak keluarga setuju dan tinggal menunggu keputusan anak untuk bersedia atau tidak untuk dilanjutkan ke jenjang khitbah (Pernikahan) - taaruf dengan mempertemukan yang hendak dijodohkan dengan maksud agar saling mengenal. Sebagai sarana yang objektif dalam melakukan pengenalan dan pendekatan, taaruf sangat berbeda dengan pacaran. Taaruf secara syar`i memang diperintahkan oleh Rasulullah SAW bagi pasangan yang ingin nikah. Perbedaan hakiki antara pacaran dengan ta’aruf adalah dari segi tujuan dan manfaat. Karena kebanyakan tujuan pacaran lebih kepada kenikmatan sesaat, zina, dan maksiat, Taaruf menurut mereka tujuannya yaitu untuk mengetahui kriteria calon pasangan. Islam mengenalkan istilah “khitbah” (meminang). Ketika seorang laki-laki menyukai seorang perempuan, maka ia harus mengkhitbahnya dengan maksud akan menikahinya pada waktu dekat. Selama masa khitbah, keduanya harus menjaga agar jangan sampai melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Islam, seperti berduaan, memperbincangkan aurat, menyentuh, mencium, memandang dengan nafsu, dan melakukan hal selayaknya suami istri.  Jika seseorang menyatakan cinta pada lawan jenisnya yang tidak dimaksudkan untuk menikahinya saat itu atau dalam waktu dekat.
2.2.2        Pacaran Bagian dari Zina
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah menetapkan untuk anak adam bagiannya dari zina, yang pasti akan mengenainya. Zina mata adalah memandang, zina lisan adalah dengan berbicara, sedangkan jiwa berkeinginan dan berangan-angan.” (HR.Bukhari & muslim).
Kalaulah kita ibaratkan zina adalah sebuah ruangan yang memiliki pintu yang berlapis-lapis, maka orang yang berpacaran adalah orang yang telah memiliki semua kuncinya. Kapan saja ia bisa masuk. Saat berpacaran tidak lepas dari zina mata dengan bebas memandang,sering melembut-lembutkan suara di hadapan pacarnya, orang yang berpacaran senantiasa memikirkan , membayangkan, mengkhawatirkan keadaan pacarnya.
Larangan Allah untuk mendekati Zina
1.      Allah melarang kita mendekati zina, karena zina itu adalah perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk . “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji. Dan suatu jalan yang buruk”. (QS. Al Isra’:32).
Maksud ayat ini, janganlah kamu melakukan perbuatan-perbuatan yang bisa menjerumuskan pada perbuatan zina. Di antara perbuatan tersebut seperti berdua-duaan dengan lawan jenis ditempat yang sepi, bersentuhan termasuk bergandengan tangan, berciuman, dan lain sebagainya.
2.      Tidak menyentuh perempuan yang bukan mahramnya
Rasulullah SAW bersabda:
Demi Allah sungguh jika kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum dari besi maka itu lebih baik dari menyentuh wanita yang tidak halal baginya.”
“Bagian dari zina pasti dia akan melakukan, kedua mata zina adalah memandang, kedua telinga zina adalah mendengar, lidah zina adalah berbicara, tangan zina adalah memegang, kaki zina adalah melangkah, sementara kalbu berkeinginan dan berangan-angan maka kemaluan lah yg membenarkan atau mendustakan.”
3.      Tidak berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya
Dilarang laki dan perempuan yang bukan mahramnya untuk berdua-duan. Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak mahramnya, karena ketiganya adalah setan." (HR. Ahmad)
4.      Harus menjaga mata atau pandangan
Sebab mata kuncinya hati. Dan pandangan itu pengutus fitnah yang sering membawa kepada perbuatan zina. Oleh karena itu Allah berfirman:
"Katakanlah kepada laki-laki mukmin hendaklah mereka memalingkan pandangan  (dari yang haram) dan menjaga kehormatan mereka..... Dan katakanlah kepada kaum wanita hendaklah mereka meredupkan mata mereka dari yang haram dan menjaga kehormatan mereka..." (QS. An-Nur: 30-31)
Yang dimaksudkan menundukkan pandangan yaitu menjaga pandangan, tidak melepaskan pandangan begitu saja apalagi memandangi lawan jenis penuh dengan gelora nafsu.
5.      Menutup aurat
"menutup aurat" Diwajibkan kepada kaum wanita untuk menjaga aurat dan dilarang memakai pakaian yang mempertontonkan bentuk tubuhnya, kecuali untuk suaminya. Dalam hadis dikatakan bahwa wanita yang keluar rumah dengan berpakaian yang mempertontonkan lekuk tubuh, memakai minyak wangi yang baunya semerbak, memakai "make up" dan sebagainya setiap langkahnya dikutuk oleh para Malaikat, dan setiap laki-laki yang memandangnya sama dengan berzina dengannya. Di hari kiamat nanti perempuan seperti itu tidak akan mencium baunya surga (apa lagi masuk surga).
2.3  Pengertian Mahasiswa
Dalam peraturan pemerintah RI No.30 tahun 1990, mahasiwa adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar di perguruan tinggi tertentu.
Menurut Sarwono (1978) mahasiswa adalah setiap orang yang secara resmi terdaftar untuk mengikuti pealajaran di perguruan tinggi dengan batas usia sekitar 18-30 tahun.
Menurut Knopfemacher (dalam Suwono, 1978) merupakan insan-insan calon sarjana yang dalam keterlibatannya dengan perguruan tinggi (yang makin menyatu dengan masyarakat), dididik dan diharapkan menjadi calon-calon intelektual.
1.      Mahasiswa Universitas Suryakancana
Mahasiswa Universitas Suryakancana bisa disingkat UNSUR adalah Universitas yang menyediakan berbagai paket pendidikan sarjana, dan pascasarjana. UNSUR terdiri dari 5 Fakultas yakni: Fakultas Teknik, Fakultas Pertanian, Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan,Fakultas Hukum, dan Fakultas Agama Islam.
2.      Mahasiswa Fakultas Agama Islam
Mahasiswa Fakultas Agama Islam bisa disingkat FAI adalah seorang mahasiswa yang beragama Islam (Muslim) dan  mengambil fakultas agama Islam sebagai dasar keilmuanya di suatu Universitas. FAI biasanya terdiri dari beberapa jurusan misalnya management Pendidikan Islam dan Ekonomi Syariah.
3.      Mahasiswa Ekonomi Syariah
Mahasiswa Ekonomi Syariah  bisa disingkat ES adalah seseorang yang menempuh pendidikan akademik di suatu universitas yang mengambil jurusan Ekonomi Syariah sebagai bidang yang nantinya menjadi dasar keilmuanya
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN dan BATASAN MASALAH

1.      Sejak Kapan dan dari Mana Mahasiswa FAI Ekonomi Syariah Semester 2 A Mengenal Istilah Pacaran
Dari 11 responden Sebagian besar mengenal istilah pacaran sejak SD selebihnya mengenal istilah tersebut dari  TK dan SMP
2.      Definisi Pacaran Menurut Mereka
Pacaran adalah
1.      Laki-laki atau Perempuan milik kita tidak boleh ada yang memiliki selain kita
2.      Pacaran adalah suatu hubungan atau status mengikat antar satu sama lain
3.      Taaruf, proses pengenalan antar lawan jenis yang dianggap spesial.
4.      Dua orang yang saling mengikat dengan komitmen satu sama lain.
5.      Dua orang yang saling mengerti da nada rasa kasih sayang.
6.      Hubungan laki-laki perempuan yang didasari rasa cinta.
7.      Penyatuan dua prasaaan
8.      Menyatukan dua prasaan yang saling mencintai.
9.      Hubungan suka sama suka antara laki-laki dan perempuan pada masa puber.
10.  Hubungan suka sama suka yang saling melindungi.
11.  Pasangan yang memiliki rasa suka satu sama lain dan akhirnya berkomitmen untuk bersama.
3.      Alasan Mengapa Mereka Pacaran
1.      Untuk  move on, ada yang memotivasi
2.      Sebagai pendewasaan diri
3.      Sebagai perkenalan diri
4.      Saling melengkapi kekurangan satu sama lain
5.      Keinginan di perhatikan oleh lawan jenis.
6.      Karena cinta
7.      Penyemangat hidup, pelengkap
8.      Pengisi kekosongan
9.      Suka sama suka dan sayang
10.  Karena ingin memiliki
11.  Untuk mendapat perhatian lebih, serasa punya teman untuk berbagi

BAB IV
PERBANDINGAN TEORI DAN KEADAAN DILAPANGAN

4.1       Budaya Pacaran di kalangan Mahasiswa
Jika mempelajari Budaya Pacaran dari waktu ke waktu dengan berani mereka memamerkan hubungan mereka tanpa rasa takut salah dan melanggar norma norma, padahal banyak sekali dampak negative yang di timbulkan dari hubungan tersebut. Pada kenyataanya, sekarang ini Pacaran sudah di anggap wajar padahal kegiatan ini jauh dari norma agama maupun norma social. Kegiatan ini banyak mengandung kegiatan atau aktivitas yang tidak terpuji. Fenomena Pacaran di Indonesia ini telah menjadi sebuah adat atau kebiasaan yang terpengaruh dari budaya barat. Tak kita pungkiri pacaran ini adalah pengaruh budaya barat yang masuk ke Indonesia. Dan aktivitas yang ada didalamnya pun hampir mendekati gaya pacaran “Barat”. Tentu banyak pandangan Soal pacaran ini di Indonesia dan pendapat orang muslim sendiri. Meski banyak pro-kontra, secara kasat mata pacaran adalah bagian dari kehidupan Mahasiswa sekarang. Dengan alasan-alasan yang membenarkan kegiatan tersebut.

4.2  Kajian Teoritis
Berdasarkan fakta-fakta yang penulis temukan , dapat dikatakan bahwa pacaran memiliki pelaku yang banyak. Istilah Pacaran ini sudah tidak asing dikalangan mahasiswa. tentunya kegitan ini pun mempunyai alasan dan bertujuan mengapa kegiatan dilakukan, menurut aktivis pacaran, Pacaran adalah suatu hubungan atau status mengikat antar satu sama lain. Hal ini sesuai dengan “Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga, 2002: 807), pacar adalah kekasih atau teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta-kasih
pacaran tersebut untuk mendapatkan perhatian dan memotivasi diri. Dengan alasan tersebut dapat ditinjau bahwa ketidak puasan terhadap perhatian yang diberikan oleh orang sekitar/teman/keluarga sehingga mencari perhatian dengan cara berpacaran. Dalam hal memotivasi diri sebenarnya diri sendirilah yang berperan penting dalam pemotivasian, karena ketika motivasi diri itu timbul dari orang lain maka ketika motivatornya menghilang maka motivasinya pun akan hilang seketika. Pacaran itu sebagai pendewasaan  mungkin untuk beberpa pendapat tersebut bisa dibenarkan tapi pendewasaan dalam hal apa. Pacaran tidak mengajarkan untuk menjadi suami yang baik atau istri yang baik tapi pacaran mengajarkan bagaimana menjadin pacar yang baik. Apakah itu perlu untuk masa depan kita yang akan berumah tangga. Pacaran itu karena saling cinta, rasa cinta adalah fitrah yang diberikan Allah SWT  tapi tidak menghalalkan yang haran karena cinta tersebut. Cintailah dalam diammu karena cinta yang belum waktunya hanya nafsu sesaat, ketika ingin dicintai dan mencintai dan keduanya ingin saling memiliki maka bersegeralah untuk menikah. Pacaran sebagai Perkenalan (Taaruf) banyak aktivis pacaran yang menggunkana dalih ini, kan dalam islam ada taaruf bedanya itu budaya Arab dan pacaran ini Indonesia. Perlu diketahui pacaran dan taaruf berbeda. Taaruf adalah media syar`i yang dapat digunakan untuk melakukan pengenalan terhadap calon pasangan. Perbedaan hakiki antara pacaran dengan ta’aruf adalah dari segi tujuan dan manfaat. Karena menurut kaum Islam fundamentalis tujuan pacaran lebih kepada kenikmatan sesaat, zina, dan maksiat, Taaruf menurut mereka tujuannya yaitu untuk mengetahui kriteria calon pasangan. (menurut Wikipedia Indonesia)




BAB V
PENUTUP
5.1  Simpulan
Simpulan yang dapat di ambil penulis disini yakni sebagian besar Mahasiswa UNSUR Fakultas Agama Islma Ekonomi Syariah A Semester 2 (dua) adalah aktivis pacaran. Dilihat dari 11 responden, dapat dikanakan mereka pernah dan sedang melakukan pacaran. Pacaran yang mereka lakukan sebagian besar bertujuan positif. Tetapi tujuan tersebut tidak luput dari kegiatan kegiatan yang dilarang oleh agama. Islam mempunyai cara tersendiri dalam pengenalan dengan lawan jenis (orang yang spesial) yakni dengan jalan taaruf. Taaruf adalah media syar`i yang dapat digunakan untuk melakukan pengenalan terhadap calon pasangan.
Penulis menyimpulkan yang menjadikan Pacaran tidak boleh adalah “Aktivitasnya” seperti saling memandang, berpegangan tangan, berdua-duaan. dll
5.2  Saran
Dengan adanya penelitian ini para pembaca dapat mengetahui bagaimana agama memandang pacaran. Ambilah keputusan sesuai dengan aturan Agama karena agama adalah pedoman hidup. semoga  makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan menambah pengetahuan baru tentang pacaran.











DAFTAR PUSTAKA

pacaranislamikenapa.wordpress.com
http://www.marifassalman.multiply.com